BAB
1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Pembahasan
Sejak diperkenalkannya fotografi
pada tahun 1826, dimana pada saat itu fotografi dikenal sebagai kajian ilmu
yang sangat baru dan awam bagai masyarakat dunia. Seiring berjalannya waktu dan
jaman kini fotografi perkembangannya demikian pesat. Perkembangan teknologi
yang canggih pengambilan gambar saat ini bisa dilakukan setiap hari hampir 24
jam, dengan teknik pencahayaan pengambilan gambar akan terlihat mudah.
Mata kuliah fotografi merupakan
suatu bidang kajian ilmu yang dipelajari dalam perkuliahan di jurusan Ilmu
Komunikasi konsentrai Hubungan Masyarakat. Kajian fotografi ini sebagai bagian
dari kegiatan humas untuk memberikan pengetahuan secara praktis dan teoritis bagaiman
menggunakan seuatu kamera, serta mendapatkan gambar atau potret yang memberikan
makna pemberian pesan yang lebih efektif dalam setiap informasi yang akan
disampaikan oleh seorang Humas.
Dalam kajian fotografi ini akan
membahas tentang sejarah awal mulanya fotografi, pengertian fotografi, anatomi
kamera, pencahayaan, serta proses dan teknik pengambilan gambar.
1.2.Maksud dan Tujuan Pembahasan
Maksud dan tujuan pembahasan
makalah ini adalah guna memenuhi tugas mandiri mata kuliah fotografi Jurusan
Ilmu Komunikasi konsentrasi Hubungan Masyarakat fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
1.3.Sistematika Pembahasan
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pembahasan
1.2.Maksud dan
Tujuan Pembahasan
1.3.Sistematika Pembahasan
BAB
II PEMBAHASAN
2.1.Pengertian
Fotografi
2.2.Sejarah
Fotografi
2.3.Kamera
dan Anatomi Kamera
2.4.Pencahayaan
2.5.Kecapatan
Rana
2.6.Diafragma
2.7.
Depth of Fiel (DoF)
2.8.Komposisi
BAB
III
3.1.Kesimpulan
3.2.Saran
dan Kritik
BAB
2
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Fotografi
Fotografi
(dari bahasa Inggris: photography, yang berasal
dari kata Yunani yaitu "Fos" : Cahaya dan
"Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan
menggunakan media cahaya.
Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan
gambar atau foto
dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut
pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini
adalah kamera.
Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Prinsip fotografi
adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar
medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas
cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki
medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).
Untuk menghasilkan
intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat
ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang
fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi
ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan
rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut
sebagai pajanan
(exposure).
Di era fotografi
digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan
berkembang menjadi Digital ISO.
2.2.Sejarah Fotografi
2.2.1. Sejarah Fotografi Di Dunia
Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport,
terbitan University of New Mexico Presstahun 1991, disebutkan bahwa pada abad
ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang lelaki bangsa Cina bernama Mo Ti sudah
mengamati sebuah gejala fotografi. Apabila pada dinding ruangan yang gelap
terdapat lubang kecil (pinhole), maka di bagian dalam ruang itu pemandangan
yang ada di luar akan terefleksikan secara terbalik lewat lubang tadi.
Selang beberapa abad kemudian, banyak ilmuwan menyadari serta
mengagumi fenomena pinhole tadi. Bahkan pada abad ke-3 SM, Aristoteles mencoba
menjabarkan fenomena pinhole tadi dengan segala ide yang ia miliki, lalu
memperkenalkannya kepada kyalayak ramai. Aristoteles merentangkan kulit yang
diberi lubang kecil, lalu digelar di atas tanah dan memberinya jarak untuk
menangkap bayangan matahari. Dalam eksperimennya itu, cahaya dapat menembus dan
memantul di atas tanah sehingga gerhana matahari dapat diamati. Khalayak pun
dibuat terperangah.
Percobaan-demi percobaan
terus berlanjut, sampai akhirnya William Henry Talbott dari Inggris pada 25
Januari 1839 memperkenalkan lukisan fotografi yang juga menggunakan kamera
obscura, tapi ia membuat foto positifnya pada sehelai kertas chlorida perak.
Kemudian, pada tahun yang sama Talbot menemukan cikal bakal film negatif modern
yang terbuatdari lembar kertas beremulsi, yang bisa digunakan untuk mencetak
foto dengan cara. Teknik ini juga bias digunakan untuk cetak ulang layaknya
film negatif modern. Proses ini disebut Calotype yang
kemudian dikembangkan menjadi Talbotypes. Untuk menghasilkan gambar positif,
Talbot menggunakan proses Saltprint. Gambar dengan film negatif pertama yang
dibuat Talbot pada Agustus 1835 adalah pemandangan pintu perpustakaan di
rumahnya di Hacock Abbey,Wiltshire, Inggris.
Foto paling pertama yang ada
di surat kabar adalah foto tambang pengeboran minyak Shantytown yang muncul di
surat kabar New York Daily Graphic di Amerika Serikat pada tanggal 4 Maret
1880. Foto itu adalah karya Henry J Newton. Fotografi kemudian berkembang
dengan sangat cepat. Menurut Szarkowski dalam Hartoyo (2004: 22), arsitek utama
dunia fotografi modern adalah seorang pengusaha bernama George Eastman. Melalui
perusahaannya yang bernama Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan
fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang
praktis. Saat itu, dunia fotografi sudah mengenal perbaikan lensa,
shutter,film, dan kertas foto. Penemuan-penemuan tersebut telah mempermudah
orangmengabadikan benda-benda yang berada di depan lensa dan mereproduksinya.
Dengan demikian, para fotografer, baik amatir maupun profesional, bisa
menghasilkansuatu karya seni tinggi tanpa terhalang oleh keterbatasan
teknologi.
Pada Tahun 1900 seorang juru
gambar telah menciptakan kamera Mammoth. Ukuran kamera ini amat besar.
Beratnya1,400 pon, sedangkan lensanya memiliki berat 500 pon. Untuk
mengoperasikan ataumemindahkannya, sang fotografer membutuhkan bantuan 15
orang. Kamera ini menggunakan film sebesar 4,5 x 8 kaki dan membutuhkan bahan
kimia sebanyak 10galon ketika memprosesnya. Lalu, pada tahun 1950, pemakaian
prisma untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex (SLR)
mulairamai. Dan di tahun yang sama, Jepang mulai memasuki dunia fotografi
dengan memproduksi kamera NIKON.
2.2.2. Sejarah
Fotografi Di Indonesia
Perkembangan fotografi di
Indonesia selalu berkaitan dan mengalir bersama momentum sosial-politik
perjalanan bangsa ini, mulai dari momentum perubahan kebijakan politik
kolonial, revolusi kemerdekaan, ledakan ekonomi di awal 1980-an, sampai
Reformasi 1998.
Dibutuhkan waktu hampir
seratus tahun bagi bangsa ini untuk benar-benar mengenal dunia fotografi.
MasuknyaJepang pada tahun 1942 telah menciptakan kesempatan bagi bangsa
Indonesia untukmenyerap teknologi ini. Demi kebutuhan propagandanya, Jepang
mulai melatih orang Indonesia menjadi fotografer untuk bekerja di kantor berita
mereka,Domei. Pada saat itulah muncul nama Mendur Bersaudara.
Frans Soemarto Mendur (1913 -
1971) bersama kakaknya, Alex Mendur, juga menjadi icon bagi dunia fotografer
nasional. Mereka kerap merekam peristiwa-peristiwa penting bagi negeri ini,
salah satunya adalah mengabadikan detik-detik pembacaan Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia. Inilah momentum ketika fotografi benar-benar
"sampai" ke Indonesia, ketika kamera berpindah tangan dan orang
Indonesia mulai merepresentasikan dirinya sendiri. Merekalah yang membentuk
imaji baru tentang bangsa Indonesia. Lewat fotografi, Mendur bersaudara
berusaha menggiring mental bangsa ini menjadi bermental sama tinggi dan
sederajat dengan bangsa lain.
2.3.Kamera dan Komponen Kamera
2.3.1.
Jenis-jenis Kamera
1.
Jenis Kamera Berdasarkan Media
Penangkap Cahaya
Kamera
film menggunakan pita seluloid (atau sejenisnya, sesuai perkembangan
teknologi). Butiran silver halida yang menempel pada pita ini sangat sensitif
terhadap cahaya. Saat proses cuci film, silver halida yang telah terekspos
cahaya dengan ukuran yang tepat akan menghitam, sedangkan yang kurang atau sama
sekali tidak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).
a.
Kamera film
Jenis
kamera film yang digunakan adalah dari jenis 35 milimeter, yang menjadi populer
karena keserbagunaan dan kecepatannya saat memotret, karena kamera ini
berukuran kecil, kompak dan tidak mencolok. Lensa kadang dapat dipertukarkan,
dan kamera itu dapat memuat gulungan film untuk 36 singkapan, bahkan kadang
lebih.
Jenis film
Pembagian
film berdasarkan ukuran:
- Small format (35mm)
- Medium format (100-120mm)
- Large format
Angka
di atas berarti ukuran diagonal film yang digunakan. Setiap jenis ukuran film
haru menggunakan kamera yang berbeda pula.
Pembagian
film berdasarkan jenis bahan dan kesensitifannya:
- Film hitam putih
- Film warna
- Film positif
- Film negatif
- Film daylight
- Film tungsten
- Film infra merah (sensitif terhadap panas yang dipantulkan permukaan objek)
b.
Kamera Polaroid
Kamera
jenis ini memakai lembaran polaroid yang langsung memberikan gambar positif
sehingga pemotret tidak perlu melakukan proses cuci cetak film.
c.
Kamera Digital
Kamera
jenis ini merupakan kamera yang dapat bekerja tanpa menggunakan film. Si
pemotret dapat dengan mudah menangkap suatu objek tanpa harus susah-susah
membidiknya melalui jendela pandang karena kamera digital sebagian besar memang
tidak memilikinya. Sebagai gantinya, kamera digital menggunakan sebuah layar LCD yang terpasang di
belakang kamera. Lebar layar LCD pada setiap kamera digital berbeda-beda.
Sebagai
media penyimpanan, kamera digital menggunakan internal memory ataupun external
memory yang menggunakan memory card.
2.
Jenis Kamera Berdasarkan Mekanisme
Kerja
a.
Kamera Single Lens Reflect
Kamera
ini memiliki cermin datar dengan singkap 45 derajat
di belakang lensa, sehingga apa yang terlihat oleh pemotret dalam jendela
pandang adalah juga apa yang akan di tangkap pada film. Umumnya kamera ini
digunakan setinggi pinggang ketika dipotretkan.
b.
Kamera Instan
Istilah
instan adalah dimilikinya mekanisme automatik pada kamera, sehingga berdasar
pengukur cahaya (lightmeter atau fotometer), lebar diafragma dan
kecepatan pemetik potret secara otomatis telah diatur.
3.
Pembagian Kamera Berdasarkan
Teknologi Viewfinder
Viewfinder
memainkan peranan penting dalam penyusunan komposisi fotografi. Fotografer ahli
biasanya akan lebih memilih viewfinder dengan kualitas baik dan mampu
memberikan gambaran tepat seperti apa yang akan tercetak.
a.
Kamera Saku
Jenis
yang paling populer digunakan masyarakat umum. Lensa utama tak bisa
diganti,umumnya otomatis atau memerlukan sedikit penyetelan Cahaya yang
melewati lensa langsung membakar medium. Kelemahan film ini adalah gambar yang
ditangkap oleh mata akan berbeda dengan yang akan dihasilkan film, karena ada
perbedaan sudut pandang jendela pembidik (viewfinder))
dengan lensa.
b.
Kamera TLR
Kelemahan
kamera poket diperbaiki oleh kamera TLR. Jendela bidik diberikan lensa yang
identik dengan lensa di bawahnya. Namun tetap ada kesalahan paralaks yang ditimbulkan sebab sudut
dan posisi kedua lensa tidak sama.
c.
Kamera SLR (Single Lens Reflect)
Pada
kamera SLR, cahaya yang masuk ke dalam kamera dibelokkan ke mata fotografer
sehingga fotografer mendapatkan bayangan yang identik dengan yang akan
terbentuk. Saat fotografer memencet tombol kecepatan rana, cahaya akan
dibelokkan kembali ke medium (atau film). lensa kamera SLR dapat diganti ganti
sesuai kehendak,sangat disukai para ahli foto, atau hobby, dudukan lensa pada
body kamera berbeda benda tergantung merek kamera,mulai dari lensa wide(sudut
lebar),tele(jarak jauh),dan lensa normal(standard 50 mm),tersedia pula lensa zoom
dengan panjang lensa bervariasi
2.3.1. Komponen Kamera
Sebuah
kamera minimal terdiri atas:
- Kotak yang kedap cahaya (badan kamera)
- Sistem lensa
- Pemantik potret (shutter)
- Pemutar film
1.
Badan kamera
Badan kamera adalah ruangan yang sama sekali kedap cahaya, namun
dihubungkan dengan lensa yang menjadi satu-satunya tempat cahaya masuk. Di
dalam bagian ini cahaya yang difokuskan oleh lensa akan diatur agar tepat
mengenai dan membakar film.
Di dalam kamera untuk tujuan seni fotografi,
biasanya ditambahkan beberapa tombol pengatur, antara lain:
·
Pengatur ISO/ASA Film.
·
Shutter Speed.
·
Aperture (Bukaan Diafragma).
Jika diperlukan bisa pula ditambah peralatan:
·
Blitz (atau lebih umum
disebut lampu kilat atau flash)
·
Tripod
2.
Sistem lensa
Sistem lensa dipasang pada lubang depan kotak,
berupa sebuah lensa tunggal yang terbuat dari plastik
atau kaca,
atau sejumlah lensa yang tersusun dalam suatu silinder
logam.
Tingkat penghalangan cahaya dinyatakan dengan angka f,
atau bukaan relatifnya. Makin rendah angka f ini, makin besar bukaannya
atau makin kecil tingkat penghalangannya. Bukaan ini diatur oleh jendela
diafragma. Bukaan relatif diatur oleh suatu diafragma.
Untuk kamera SLR, lensa dilengkapi dengan pengatur bukaan diafragma yang
mengatur banyaknya cahaya yang masuk sesuai keinginan fotografer.
Jenis lensa cepat ataupun lensa lambat ditentukan
oleh rentang nilai F yang dapat digunakan.
Disamping lensa biasa, dikenal juga
·
Lensa sudut lebar
(wide lens),
Lensa
sudut lebar mempunyai jarak fokus yang lebih kecil daripada lensa biasa. Namun
sebutan itu bergantung pada lebarnya film yang digunakan. Untuk film 35 milimeter,
lensa 35 milimeter akan disebut lensa sudut lebar
·
Lensa sudut kecil
(tele lens)
Lensa sudut
kecil mempunyai jarak focus yang lebih besar dari pada lensa sudut lebah. Lensa
yang berukuran 135 milimeter akan disebut lensa telefoto.
·
Lensa variabel
(variable lens, atau oleh kalangan awam disebut dengan istilah lensa zoom.
Lensa variabel
dapat diubah-ubah jarak fokusnya, dengan mengubah kedudukan relatif unsur-unsur
lensa tersebut. Lensa akan memfokuskan cahaya sehingga dihasilkan bayangan
sesuai ukuran film. Lensa dikelompokkan sesuai panjang focal length
(jarak antara kedua lensa).
Focal lenght
memengaruhi besar komposisi gambar yang mampu dihasilkan. Dalam masyarakat
umum, lebih dikenal dengan istilah zoom.
3.
Pemantik Potret
Tombol pemantik potret atau shutter dipasang
di belakang lensa atau di antara lensa. Kebanyakan kamera SLR mempunyai
mekanisme pengatur waktu
untuk memungkinkan mengubah-ubah lama bukaan shutter. Waktu ini ialah
singkatnya pemetik potret itu membuka, sehingga memungkinkan berkas cahaya
mengenai film.
Beberapa masyarakat awam menganggap kemampuan kamera
sebanding dengan besarnya nilai maksimum shutter speed yang bisa
digunakan
2.4.
Pencahayaan
Didalam fotografi, pencahayaan (exposure) dapat dikatakan sebagai seni atau teknik untuk mencarai
keseimbangan antara seberapa besar jumlah (volume) cahaya yang melalui lensa
dengan seberapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk mampu menghasilkan gambar pada
sebidang bahan peka cahaya (film) atau sensor digital yang terdapat didalm
kamera.
Dalam pemotretan, kekurangan cahay diesbut under exposure sedangkan kelebihan
cahaya disebut over exposure. Untuk
mencari keseimbangan dalam pencahayaan yaitu dengan cara membuka diafragma
sebesar-besarnya untuk kemudian mencari waktu yang diperlukan dengan mengubah
kecepatan rana hingga tercapai keseimbangan. Keuntungan cara ini adalah agar
memnimalisir hasil gambar yang ngeblur
karena dengan kesimbangan ini gambar akan terlihat lebih pas dan tidak
mengakibatkan under exposure atau over exposure.
Dibawah ini terdapat sebuah table yang menunjukan
angka-angka diafragma dalam beberapa kondisi :
Kondisi
|
Diafragma
|
Kecepatan
Rana
|
Langit cerah tak berawan
|
f/16
|
1/ASA (ISO)
|
Berawan
|
f/11
|
|
Langit putih (overcast)
|
f/8
|
|
Objek dibawah bayangan
|
f/5,6
|
Tabel 2.1.
Angka-angka Diafragma
2.5.
Efek Kecapatan Rana
Kecepatan rana (shutter speed) artinya
penutup (to shut = menutup). Pada waktu kita menekan tombol untuk memotret,
terjadi pembukaan lensa sehingga cahaya masuk dan mengenai film. Pekerjaan
shutter adalah membuka dan kemudian menutup lagi.
Kecepatan rana adalah kecepatan shutter membuka dan menutup
kembali. Shutter speed dapat kita atur. Jika kita memilih 1/100, maka ia akan
membuka selama 1/100 detik.
Skala shutter speed bervariasi. Ada yang B,
1, ½, ¼, 1/8, 1/15, 1/30, 1/60, 1/125, 1/250, 1/500, 1/1000, dst. Mulai dari ½
sampai 1/1000 biasanya hanya disebut angka-angka dibawah saja. Artinya 100 =
1/100 dan 2 artinya ½ detik. Namun jika angka 2 itu berwarna, maka artinya
adalah 2 detik.
Sedangkan B artinya bulb, yaitu jika
tombol ditekan maka shutter membuka, dan ketika tombol dilepaskan maka shutter
menutup.
Yang perlu diingat adalah, semakin lama
kecepatan shutter, jumlah cahaya yang masuk akan semakin banyak. Semakin besar
angkanya, maka kecepatan shutter akan semakin tinggi(shutter akan semakin cepat
membuka dan menutup).
·
Speed
cepat
Speed cepat kita gunakan untuk memotret benda
yang bergerak. Semakin cepat pergerakan benda tersebut, maka semakin besar
angka speed shutter yang kita butuhkan.
·
Speed
lambat
Jika benda yang bergerak cepat dipotret
dengan speed shutter rendah, maka hasilnya ialah gambar akan tampak kabur,
seakan-akan disapu, namun latar belakangnya jelas. Efek ini kadang-kadang bagus
dan menimbulkan sense of motion dari benda yang dipotret.
Cara lain adalah dengan menggerakkan kamera
ke arah gerak objek (panning) bertepatan dengan melepas tombol. Hasil gambarnya
ialah latar belakang kabur, tetapi gambar subjek jelas. Seberapa jelas atau
kaburnya subjek tergantung pada cepat atau lambatnya gerakan panning. Jika
gerakannya bersama-sama dengan gerakan subjek, maka gambar yang dihasilkan
jelas. Sebaliknya jika kamera lebih cepat atau lebih lambat dari gerakan
subjek, maka hasilnya akan blur (kabur).
2.6. Diafragma
Diafragma atau aperture
(atau sering disebut bukaan) berfungsi untuk mengatur jumlah volume cahaya yang
masuk. Alat ini biasanya terdapat di belakang lensa. Terdiri dari 5-8 lempengan
logam yang tersusun dan dapat membuka lebih lebar atau lebih sempit.
Penulisan angka diafragma biasanya adalah
f/2, f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11, dan f/16, dst. Semakin kecil angka
diafragma, maka bukaan yang dihasilkan akan semakin lebar sehingga cahaya yang
masuk semakin banyak.
·
Bukaan
besar
Bukaan diafragma yang besar digunakan untuk
menghasilkan foto dengan subjek yang tajam dengan latar belakang blur.
·
Bukaan
kecil
Bukaan kecil akan menghasilkan gambar yang
tajam mulai dari foreground hingga background. Bukaan kecil biasanya digunakan
dalam pemotertan landscape yang memang membutuhkan detail dan ketajaman di
selurh bagian foto.
2.7.Depth of Field
Depth of field adalah jumlah jarak antara subjek yang paling dekat dan yang paling
jauh yang dapat muncul di fokus tajam sebuah foto. Misalnya, jika kita memotret
pohon-pohon yang berdiri bersaf-saf, maka yang akan tampak pada foto yang telah
dicetak adalah beberapa pohon di depan tampak jelas kemudian makin ke belakang
makin kabur.
Depth
of field sangat tergantung
pada:
·
Diafragma.
Semakin kecil bukaan diafragma, semakin besar depth of field yang dihasilkan.
Bukaan penuh akan menghasilkan depth of field yang sangat dangkal.
·
Jarak
fokus lensa (focal length). Semakin panjang focal
length, semakin sempit depth of field.
Maka dari itu, lensa wide angle memiliki depth
of field yang sangat besar.
·
Jarak
pemotretan. Semakin dekat jaraknya, semakin sempit depth of field yang dihasilkan.
Fungsi depth
of field adalah untuk mengaburkan latar belakang jika latar tersebut tidak
sesuai dengan subjeknya
2.7. Komposisi
Komposisi secara
sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar,
elemen-elemen ini mencakup garis, shape, form, warna, terang dan gelap. Cara
anda menata komposisi dalam jendela bidik akan diinterprestasikan kemudian
setelah foto anda tersebut dicetak. Yang paling utama dari aspek komposisi
adalah menghasilkan visual impact- sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan
yang anda inginkan untuk berekspresi dalam foto anda. Dengan demikian anda
perlu menata sedemikian rupa agar tujuan anda tercapai, apakah itu untuk
menyampaikan kesan statis dan diam atau sesuatu mengejutkan, beda, eksentrik.
Dalam komposisi klasik selalu ada satu titik perhatian yang pertama menarik
perhatian. Hal ini terjadi karena penataan posisi, subordinasi, kontras cahaya
atau intensitas subjek dibandingkan sekitarnya atau pengaturan sedemikian rupa
yang membentuk arah yang membawa perhatian pengamat pada satu titik.
Secara keseluruhan,
komposisi klasik yang baik memiliki proporsi yang menyenangkan. Ada
keseimbangan antara gelap dan terang, antara bentuk padat dan ruang terbuka
atau warna-warna cerah dengan warna-warna redup. Pada kesempatan-kesempatan
tertentu, bila dibutuhkan mungkin anda akan membutuhkan komposisi anda
seluruhnya simetris. Seringkali gambar yang anda buat lebih dinamis dan secara
visual lebih menarik bila anda menempatkan subjek ditengah. Anda harus
menghindari sebuah garis pembagi biarpun itu vertikal.
Tujuan Mengatur Komposisi :
a. Dengan
mengatur komposisi foto, kita juga dapat membangun “mood” suatu foto dan
keseimbangan keseluruhan objek foto.
b. Menyusun
perwujudan ide menjadi sebuah penyusunan gambar yang baik sehingga terwujud
sebuah kesatuan / unity dalam karya.
c. Melatih
kepekaan mata untuk menangkap berbagai unsur dan mengasah rasa estetik dalam
pribadi pemotret.
BAB
III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Fotografi seperti yang kita kenal sekarang adalah hasil
dari penemuan. Yang pertama dalam bidang ilmu alam menghasilkan kamera, yang
kedua dalam bidang kimia menghasilkan film. Asal mulanya kedua penemuan itu
tidak ada hubungannya satu sama lain dan sebelum masing – masing sampai kepada
kesempurnaannya seperti yang telah kita kenal sekarang serta melahirkan
penemuan baru yaitu fotografi, telah panjang yang ditempuh baik oleh kamera
maupun oleh film.
Untuk mendalami bidang fotografi, siapa pun
harus punya pengetahuan dasar yang baik tentang cahaya (light). Hal
ini penting karena cahaya memegang kunci utama dalam penentuan eksposur yang
diatur oleh shutter dan aperture pada kamera. Setelah memahami tentang cahaya,
tahap selanjutnya adalah mengerti tentang pencahayaan (lighting)
sehingga mampu menghasilkan foto yang lebih baik dalam berbagai kondisi
pemotretan.
3.2.Saran
dan Kritik
Dalam penulisan makalah ini tentunya sangat jauh dari
idealnya sebuah pembahasan maka dengan penulis mengharapkan saran dan kritik
sebagai masukan kepada penulis untuk lebih mengembangkan pembahasan yang telah
ditulis, sehinga penulisan dalam sebuah makalah mendekati kepada sebuah
idealnya pembahasan materi.
DAFTAR PUSTAKA
- Soelarko, R.M. Prof.Dr. Penuntun Fotografi Edisi V. Bandung: PT. Karya Nusantara
- Chiawono, Agus. Teknik Fotografi Digital Blitz for Dummies. www.situsfoto.net
- (Basic) Kombinasi Shutterspeed, Diafragma, dan ISO. www.alvinfauzie.com
- Glossary. www.library.thinkquest.org
- www.wikipedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar