Senin, 28 November 2011

Makalah Fotografi

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Pembahasan
Sejak diperkenalkannya fotografi pada tahun 1826, dimana pada saat itu fotografi dikenal sebagai kajian ilmu yang sangat baru dan awam bagai masyarakat dunia. Seiring berjalannya waktu dan jaman kini fotografi perkembangannya demikian pesat. Perkembangan teknologi yang canggih pengambilan gambar saat ini bisa dilakukan setiap hari hampir 24 jam, dengan teknik pencahayaan pengambilan gambar akan terlihat mudah. 
Mata kuliah fotografi merupakan suatu bidang kajian ilmu yang dipelajari dalam perkuliahan di jurusan Ilmu Komunikasi konsentrai Hubungan Masyarakat. Kajian fotografi ini sebagai bagian dari kegiatan humas untuk memberikan pengetahuan secara praktis dan teoritis bagaiman menggunakan seuatu kamera, serta mendapatkan gambar atau potret yang memberikan makna pemberian pesan yang lebih efektif dalam setiap informasi yang akan disampaikan oleh seorang Humas.
Dalam kajian fotografi ini akan membahas tentang sejarah awal mulanya fotografi, pengertian fotografi, anatomi kamera, pencahayaan, serta proses dan teknik pengambilan gambar.
1.2.Maksud dan Tujuan Pembahasan
Maksud dan tujuan pembahasan makalah ini adalah guna memenuhi tugas mandiri mata kuliah fotografi Jurusan Ilmu Komunikasi konsentrasi Hubungan Masyarakat fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
1.3.Sistematika Pembahasan
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Pembahasan
1.2.Maksud dan Tujuan Pembahasan
1.3.Sistematika Pembahasan
BAB II PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Fotografi
2.2.Sejarah Fotografi
2.3.Kamera dan Anatomi Kamera
2.4.Pencahayaan
2.5.Kecapatan Rana
2.6.Diafragma
2.7. Depth of Fiel (DoF)
2.8.Komposisi
BAB III
3.1.Kesimpulan
3.2.Saran dan Kritik

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Fotografi
Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "Fos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).
Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.

2.2.Sejarah Fotografi
2.2.1. Sejarah Fotografi Di Dunia
Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Presstahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang lelaki bangsa Cina bernama Mo Ti sudah mengamati sebuah gejala fotografi. Apabila pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil (pinhole), maka di bagian dalam ruang itu pemandangan yang ada di luar akan terefleksikan secara terbalik lewat lubang tadi.
Selang beberapa abad kemudian, banyak ilmuwan menyadari serta mengagumi fenomena pinhole tadi. Bahkan pada abad ke-3 SM, Aristoteles mencoba menjabarkan fenomena pinhole tadi dengan segala ide yang ia miliki, lalu memperkenalkannya kepada kyalayak ramai. Aristoteles merentangkan kulit yang diberi lubang kecil, lalu digelar di atas tanah dan memberinya jarak untuk menangkap bayangan matahari. Dalam eksperimennya itu, cahaya dapat menembus dan memantul di atas tanah sehingga gerhana matahari dapat diamati. Khalayak pun dibuat terperangah.
Percobaan-demi percobaan terus berlanjut, sampai akhirnya William Henry Talbott dari Inggris pada 25 Januari 1839 memperkenalkan lukisan fotografi yang juga menggunakan kamera obscura, tapi ia membuat foto positifnya pada sehelai kertas chlorida perak. Kemudian, pada tahun yang sama Talbot menemukan cikal bakal film negatif modern yang terbuatdari lembar kertas beremulsi, yang bisa digunakan untuk mencetak foto dengan cara. Teknik ini juga bias digunakan untuk cetak ulang layaknya film negatif modern. Proses ini disebut Calotype yang kemudian dikembangkan menjadi Talbotypes. Untuk menghasilkan gambar positif, Talbot menggunakan proses Saltprint. Gambar dengan film negatif pertama yang dibuat Talbot pada Agustus 1835 adalah pemandangan pintu perpustakaan di rumahnya di Hacock Abbey,Wiltshire, Inggris.
Foto paling pertama yang ada di surat kabar adalah foto tambang pengeboran minyak Shantytown yang muncul di surat kabar New York Daily Graphic di Amerika Serikat pada tanggal 4 Maret 1880. Foto itu adalah karya Henry J Newton. Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Menurut Szarkowski dalam Hartoyo (2004: 22), arsitek utama dunia fotografi modern adalah seorang pengusaha bernama George Eastman. Melalui perusahaannya yang bernama Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis. Saat itu, dunia fotografi sudah mengenal perbaikan lensa, shutter,film, dan kertas foto. Penemuan-penemuan tersebut telah mempermudah orangmengabadikan benda-benda yang berada di depan lensa dan mereproduksinya. Dengan demikian, para fotografer, baik amatir maupun profesional, bisa menghasilkansuatu karya seni tinggi tanpa terhalang oleh keterbatasan teknologi.
Pada Tahun 1900 seorang juru gambar telah menciptakan kamera Mammoth. Ukuran kamera ini amat besar. Beratnya1,400 pon, sedangkan lensanya memiliki berat 500 pon. Untuk mengoperasikan ataumemindahkannya, sang fotografer membutuhkan bantuan 15 orang. Kamera ini menggunakan film sebesar 4,5 x 8 kaki dan membutuhkan bahan kimia sebanyak 10galon ketika memprosesnya. Lalu, pada tahun 1950, pemakaian prisma untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex (SLR) mulairamai. Dan di tahun yang sama, Jepang mulai memasuki dunia fotografi dengan memproduksi kamera NIKON.

2.2.2. Sejarah Fotografi Di Indonesia
Perkembangan fotografi di Indonesia selalu berkaitan dan mengalir bersama momentum sosial-politik perjalanan bangsa ini, mulai dari momentum perubahan kebijakan politik kolonial, revolusi kemerdekaan, ledakan ekonomi di awal 1980-an, sampai Reformasi 1998.
Dibutuhkan waktu hampir seratus tahun bagi bangsa ini untuk benar-benar mengenal dunia fotografi. MasuknyaJepang pada tahun 1942 telah menciptakan kesempatan bagi bangsa Indonesia untukmenyerap teknologi ini. Demi kebutuhan propagandanya, Jepang mulai melatih orang Indonesia menjadi fotografer untuk bekerja di kantor berita mereka,Domei. Pada saat itulah muncul nama Mendur Bersaudara.
Frans Soemarto Mendur (1913 - 1971) bersama kakaknya, Alex Mendur, juga menjadi icon bagi dunia fotografer nasional. Mereka kerap merekam peristiwa-peristiwa penting bagi negeri ini, salah satunya adalah mengabadikan detik-detik pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Inilah momentum ketika fotografi benar-benar "sampai" ke Indonesia, ketika kamera berpindah tangan dan orang Indonesia mulai merepresentasikan dirinya sendiri. Merekalah yang membentuk imaji baru tentang bangsa Indonesia. Lewat fotografi, Mendur bersaudara berusaha menggiring mental bangsa ini menjadi bermental sama tinggi dan sederajat dengan bangsa lain.

2.3.Kamera dan Komponen Kamera
2.3.1. Jenis-jenis Kamera
1.      Jenis Kamera Berdasarkan Media Penangkap Cahaya
Kamera film menggunakan pita seluloid (atau sejenisnya, sesuai perkembangan teknologi). Butiran silver halida yang menempel pada pita ini sangat sensitif terhadap cahaya. Saat proses cuci film, silver halida yang telah terekspos cahaya dengan ukuran yang tepat akan menghitam, sedangkan yang kurang atau sama sekali tidak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).


a.      Kamera film
Jenis kamera film yang digunakan adalah dari jenis 35 milimeter, yang menjadi populer karena keserbagunaan dan kecepatannya saat memotret, karena kamera ini berukuran kecil, kompak dan tidak mencolok. Lensa kadang dapat dipertukarkan, dan kamera itu dapat memuat gulungan film untuk 36 singkapan, bahkan kadang lebih.
Jenis film
Pembagian film berdasarkan ukuran:
  • Small format (35mm)
  • Medium format (100-120mm)
  • Large format
Angka di atas berarti ukuran diagonal film yang digunakan. Setiap jenis ukuran film haru menggunakan kamera yang berbeda pula.
Pembagian film berdasarkan jenis bahan dan kesensitifannya:
  • Film hitam putih
  • Film warna
  • Film positif
  • Film negatif
  • Film daylight
  • Film tungsten
  • Film infra merah (sensitif terhadap panas yang dipantulkan permukaan objek)
b.      Kamera Polaroid
Kamera jenis ini memakai lembaran polaroid yang langsung memberikan gambar positif sehingga pemotret tidak perlu melakukan proses cuci cetak film.
c.       Kamera Digital
Kamera jenis ini merupakan kamera yang dapat bekerja tanpa menggunakan film. Si pemotret dapat dengan mudah menangkap suatu objek tanpa harus susah-susah membidiknya melalui jendela pandang karena kamera digital sebagian besar memang tidak memilikinya. Sebagai gantinya, kamera digital menggunakan sebuah layar LCD yang terpasang di belakang kamera. Lebar layar LCD pada setiap kamera digital berbeda-beda.
Sebagai media penyimpanan, kamera digital menggunakan internal memory ataupun external memory yang menggunakan memory card.
2.      Jenis Kamera Berdasarkan Mekanisme Kerja
a.      Kamera Single Lens Reflect
Kamera ini memiliki cermin datar dengan singkap 45 derajat di belakang lensa, sehingga apa yang terlihat oleh pemotret dalam jendela pandang adalah juga apa yang akan di tangkap pada film. Umumnya kamera ini digunakan setinggi pinggang ketika dipotretkan.
b.      Kamera Instan
Istilah instan adalah dimilikinya mekanisme automatik pada kamera, sehingga berdasar pengukur cahaya (lightmeter atau fotometer), lebar diafragma dan kecepatan pemetik potret secara otomatis telah diatur.
3.      Pembagian Kamera Berdasarkan Teknologi Viewfinder
Viewfinder memainkan peranan penting dalam penyusunan komposisi fotografi. Fotografer ahli biasanya akan lebih memilih viewfinder dengan kualitas baik dan mampu memberikan gambaran tepat seperti apa yang akan tercetak.
a.      Kamera Saku
Jenis yang paling populer digunakan masyarakat umum. Lensa utama tak bisa diganti,umumnya otomatis atau memerlukan sedikit penyetelan Cahaya yang melewati lensa langsung membakar medium. Kelemahan film ini adalah gambar yang ditangkap oleh mata akan berbeda dengan yang akan dihasilkan film, karena ada perbedaan sudut pandang jendela pembidik (viewfinder)) dengan lensa.
b.      Kamera TLR
Kelemahan kamera poket diperbaiki oleh kamera TLR. Jendela bidik diberikan lensa yang identik dengan lensa di bawahnya. Namun tetap ada kesalahan paralaks yang ditimbulkan sebab sudut dan posisi kedua lensa tidak sama.
c.       Kamera SLR (Single Lens Reflect)
Pada kamera SLR, cahaya yang masuk ke dalam kamera dibelokkan ke mata fotografer sehingga fotografer mendapatkan bayangan yang identik dengan yang akan terbentuk. Saat fotografer memencet tombol kecepatan rana, cahaya akan dibelokkan kembali ke medium (atau film). lensa kamera SLR dapat diganti ganti sesuai kehendak,sangat disukai para ahli foto, atau hobby, dudukan lensa pada body kamera berbeda benda tergantung merek kamera,mulai dari lensa wide(sudut lebar),tele(jarak jauh),dan lensa normal(standard 50 mm),tersedia pula lensa zoom dengan panjang lensa bervariasi

2.3.1. Komponen Kamera
Sebuah kamera minimal terdiri atas:
  • Kotak yang kedap cahaya (badan kamera)
  • Sistem lensa
  • Pemantik potret (shutter)
  • Pemutar film
1.      Badan kamera
Badan kamera adalah ruangan yang sama sekali kedap cahaya, namun dihubungkan dengan lensa yang menjadi satu-satunya tempat cahaya masuk. Di dalam bagian ini cahaya yang difokuskan oleh lensa akan diatur agar tepat mengenai dan membakar film.
Di dalam kamera untuk tujuan seni fotografi, biasanya ditambahkan beberapa tombol pengatur, antara lain:
·         Pengatur ISO/ASA Film.
·         Shutter Speed.
·         Aperture (Bukaan Diafragma).
Jika diperlukan bisa pula ditambah peralatan:
·         Blitz (atau lebih umum disebut lampu kilat atau flash)
·         Tripod
·         Lightmeter

2.      Sistem lensa
Sistem lensa dipasang pada lubang depan kotak, berupa sebuah lensa tunggal yang terbuat dari plastik atau kaca, atau sejumlah lensa yang tersusun dalam suatu silinder logam.
Tingkat penghalangan cahaya dinyatakan dengan angka f, atau bukaan relatifnya. Makin rendah angka f ini, makin besar bukaannya atau makin kecil tingkat penghalangannya. Bukaan ini diatur oleh jendela diafragma. Bukaan relatif diatur oleh suatu diafragma. Untuk kamera SLR, lensa dilengkapi dengan pengatur bukaan diafragma yang mengatur banyaknya cahaya yang masuk sesuai keinginan fotografer.


Jenis lensa cepat ataupun lensa lambat ditentukan oleh rentang nilai F yang dapat digunakan.
Disamping lensa biasa, dikenal juga
·         Lensa sudut lebar (wide lens),
Lensa sudut lebar mempunyai jarak fokus yang lebih kecil daripada lensa biasa. Namun sebutan itu bergantung pada lebarnya film yang digunakan. Untuk film 35 milimeter, lensa 35 milimeter akan disebut lensa sudut lebar
·         Lensa sudut kecil (tele lens)
Lensa sudut kecil mempunyai jarak focus yang lebih besar dari pada lensa sudut lebah. Lensa yang berukuran 135 milimeter akan disebut lensa telefoto.
·         Lensa variabel (variable lens, atau oleh kalangan awam disebut dengan istilah lensa zoom.
Lensa variabel dapat diubah-ubah jarak fokusnya, dengan mengubah kedudukan relatif unsur-unsur lensa tersebut. Lensa akan memfokuskan cahaya sehingga dihasilkan bayangan sesuai ukuran film. Lensa dikelompokkan sesuai panjang focal length (jarak antara kedua lensa).
Focal lenght memengaruhi besar komposisi gambar yang mampu dihasilkan. Dalam masyarakat umum, lebih dikenal dengan istilah zoom.

3.      Pemantik Potret
Tombol pemantik potret atau shutter dipasang di belakang lensa atau di antara lensa. Kebanyakan kamera SLR mempunyai mekanisme pengatur waktu untuk memungkinkan mengubah-ubah lama bukaan shutter. Waktu ini ialah singkatnya pemetik potret itu membuka, sehingga memungkinkan berkas cahaya mengenai film.
Beberapa masyarakat awam menganggap kemampuan kamera sebanding dengan besarnya nilai maksimum shutter speed yang bisa digunakan

2.4. Pencahayaan
Didalam fotografi, pencahayaan (exposure) dapat dikatakan sebagai seni atau teknik untuk mencarai keseimbangan antara seberapa besar jumlah (volume) cahaya yang melalui lensa dengan seberapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk mampu menghasilkan gambar pada sebidang bahan peka cahaya (film) atau sensor digital yang terdapat didalm kamera.
Dalam pemotretan, kekurangan cahay diesbut under exposure sedangkan kelebihan cahaya disebut over exposure. Untuk mencari keseimbangan dalam pencahayaan yaitu dengan cara membuka diafragma sebesar-besarnya untuk kemudian mencari waktu yang diperlukan dengan mengubah kecepatan rana hingga tercapai keseimbangan. Keuntungan cara ini adalah agar memnimalisir hasil gambar yang ngeblur karena dengan kesimbangan ini gambar akan terlihat lebih pas dan tidak mengakibatkan under exposure atau over exposure.
Dibawah ini terdapat sebuah table yang menunjukan angka-angka diafragma dalam beberapa kondisi :

Kondisi
Diafragma
Kecepatan Rana
Langit cerah tak berawan
f/16
1/ASA (ISO)
Berawan
f/11
Langit putih (overcast)
f/8
Objek dibawah bayangan
f/5,6

Tabel 2.1.
Angka-angka Diafragma
2.5. Efek Kecapatan Rana
Kecepatan rana (shutter speed) artinya penutup (to shut = menutup). Pada waktu kita menekan tombol untuk memotret, terjadi pembukaan lensa sehingga cahaya masuk dan mengenai film. Pekerjaan shutter adalah membuka dan kemudian menutup lagi.
Kecepatan rana adalah kecepatan shutter membuka dan menutup kembali. Shutter speed dapat kita atur. Jika kita memilih 1/100, maka ia akan membuka selama 1/100 detik.
Skala shutter speed bervariasi. Ada yang B, 1, ½, ¼, 1/8, 1/15, 1/30, 1/60, 1/125, 1/250, 1/500, 1/1000, dst. Mulai dari ½ sampai 1/1000 biasanya hanya disebut angka-angka dibawah saja. Artinya 100 = 1/100 dan 2 artinya ½ detik. Namun jika angka 2 itu berwarna, maka artinya adalah 2 detik.
Sedangkan B artinya bulb, yaitu jika tombol ditekan maka shutter membuka, dan ketika tombol dilepaskan maka shutter menutup.
Yang perlu diingat adalah, semakin lama kecepatan shutter, jumlah cahaya yang masuk akan semakin banyak. Semakin besar angkanya, maka kecepatan shutter akan semakin tinggi(shutter akan semakin cepat membuka dan menutup).
·         Speed cepat
Speed cepat kita gunakan untuk memotret benda yang bergerak. Semakin cepat pergerakan benda tersebut, maka semakin besar angka speed shutter yang kita butuhkan.
·         Speed lambat
Jika benda yang bergerak cepat dipotret dengan speed shutter rendah, maka hasilnya ialah gambar akan tampak kabur, seakan-akan disapu, namun latar belakangnya jelas. Efek ini kadang-kadang bagus dan menimbulkan sense of motion dari benda yang dipotret.
Cara lain adalah dengan menggerakkan kamera ke arah gerak objek (panning) bertepatan dengan melepas tombol. Hasil gambarnya ialah latar belakang kabur, tetapi gambar subjek jelas. Seberapa jelas atau kaburnya subjek tergantung pada cepat atau lambatnya gerakan panning. Jika gerakannya bersama-sama dengan gerakan subjek, maka gambar yang dihasilkan jelas. Sebaliknya jika kamera lebih cepat atau lebih lambat dari gerakan subjek, maka hasilnya akan blur (kabur).

2.6. Diafragma
Diafragma atau aperture (atau sering disebut bukaan) berfungsi untuk mengatur jumlah volume cahaya yang masuk. Alat ini biasanya terdapat di belakang lensa. Terdiri dari 5-8 lempengan logam yang tersusun dan dapat membuka lebih lebar atau lebih sempit.
Penulisan angka diafragma biasanya adalah f/2, f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11, dan f/16, dst. Semakin kecil angka diafragma, maka bukaan yang dihasilkan akan semakin lebar sehingga cahaya yang masuk semakin banyak.
·         Bukaan besar
Bukaan diafragma yang besar digunakan untuk menghasilkan foto dengan subjek yang tajam dengan latar belakang blur.
·         Bukaan kecil
Bukaan kecil akan menghasilkan gambar yang tajam mulai dari foreground hingga background. Bukaan kecil biasanya digunakan dalam pemotertan landscape yang memang membutuhkan detail dan ketajaman di selurh bagian foto.

2.7.Depth of Field
Depth of field adalah jumlah jarak antara subjek yang paling dekat dan yang paling jauh yang dapat muncul di fokus tajam sebuah foto. Misalnya, jika kita memotret pohon-pohon yang berdiri bersaf-saf, maka yang akan tampak pada foto yang telah dicetak adalah beberapa pohon di depan tampak jelas kemudian makin ke belakang makin kabur.
Depth of field sangat tergantung pada:
·         Diafragma. Semakin kecil bukaan diafragma, semakin besar depth of field yang dihasilkan. Bukaan penuh akan menghasilkan depth of field yang sangat dangkal.
·         Jarak fokus lensa (focal length). Semakin panjang focal length, semakin sempit depth of field. Maka dari itu, lensa wide angle memiliki depth of field yang sangat besar.
·         Jarak pemotretan. Semakin dekat jaraknya, semakin sempit depth of field yang dihasilkan.
Fungsi depth of field adalah untuk mengaburkan latar belakang jika latar tersebut tidak sesuai dengan subjeknya


2.7. Komposisi
Komposisi secara sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar, elemen-elemen ini mencakup garis, shape, form, warna, terang dan gelap. Cara anda menata komposisi dalam jendela bidik akan diinterprestasikan kemudian setelah foto anda tersebut dicetak. Yang paling utama dari aspek komposisi adalah menghasilkan visual impact- sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk berekspresi dalam foto anda. Dengan demikian anda perlu menata sedemikian rupa agar tujuan anda tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau sesuatu mengejutkan, beda, eksentrik. Dalam komposisi klasik selalu ada satu titik perhatian yang pertama menarik perhatian. Hal ini terjadi karena penataan posisi, subordinasi, kontras cahaya atau intensitas subjek dibandingkan sekitarnya atau pengaturan sedemikian rupa yang membentuk arah yang membawa perhatian pengamat pada satu titik.
Secara keseluruhan, komposisi klasik yang baik memiliki proporsi yang menyenangkan. Ada keseimbangan antara gelap dan terang, antara bentuk padat dan ruang terbuka atau warna-warna cerah dengan warna-warna redup. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, bila dibutuhkan mungkin anda akan membutuhkan komposisi anda seluruhnya simetris. Seringkali gambar yang anda buat lebih dinamis dan secara visual lebih menarik bila anda menempatkan subjek ditengah. Anda harus menghindari sebuah garis pembagi biarpun itu vertikal.
Tujuan Mengatur Komposisi :
a.       Dengan mengatur komposisi foto, kita juga dapat membangun “mood” suatu foto dan keseimbangan keseluruhan objek foto.
b.      Menyusun perwujudan ide menjadi sebuah penyusunan gambar yang baik sehingga terwujud sebuah kesatuan / unity dalam karya.
c.       Melatih kepekaan mata untuk menangkap berbagai unsur dan mengasah rasa estetik dalam pribadi pemotret.

BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Fotografi seperti yang kita kenal sekarang adalah hasil dari penemuan. Yang pertama dalam bidang ilmu alam menghasilkan kamera, yang kedua dalam bidang kimia menghasilkan film. Asal mulanya kedua penemuan itu tidak ada hubungannya satu sama lain dan sebelum masing – masing sampai kepada kesempurnaannya seperti yang telah kita kenal sekarang serta melahirkan penemuan baru yaitu fotografi, telah panjang yang ditempuh baik oleh kamera maupun oleh film.
Untuk mendalami bidang fotografi, siapa pun harus punya pengetahuan dasar yang baik tentang cahaya (light). Hal ini penting karena cahaya memegang kunci utama dalam penentuan eksposur yang diatur oleh shutter dan aperture pada kamera. Setelah memahami tentang cahaya, tahap selanjutnya adalah mengerti tentang pencahayaan (lighting) sehingga mampu menghasilkan foto yang lebih baik dalam berbagai kondisi pemotretan.

3.2.Saran dan Kritik
Dalam penulisan makalah ini tentunya sangat jauh dari idealnya sebuah pembahasan maka dengan penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan kepada penulis untuk lebih mengembangkan pembahasan yang telah ditulis, sehinga penulisan dalam sebuah makalah mendekati kepada sebuah idealnya pembahasan materi.


DAFTAR PUSTAKA

  • Soelarko, R.M. Prof.Dr. Penuntun Fotografi Edisi V. Bandung: PT. Karya Nusantara
  • Chiawono, Agus. Teknik Fotografi Digital Blitz for Dummies. www.situsfoto.net
  • (Basic) Kombinasi Shutterspeed, Diafragma, dan ISO. www.alvinfauzie.com
  • Glossary. www.library.thinkquest.org
  • www.wikipedia.com









Selasa, 07 Juni 2011

Cyber Public Relations

tugas Mata Kuliah Perkembangan Teknologi Komunikasi 


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Dewasa ini, PR dihadapkan kepada suatu masalah dalam hal penyampaian informasi dan harus menangani berbagi macam fakta yang sebenarnya, terlepas dari apakah fakta itu hitam, atau putih. Perkembangan komunikasi tidak memungkinkan lagi bagi kita untuk menutup-nutupi semua fakta. Oleh karena itu, para personilnya dituntut untuk lebih mampu menjadikan orang-orang lain memahami suatu pesan, demi menjaga reputasi atau citra lembaga yang diwakilinya. Agaknya dalam aspek inilah, PR dapat dipandang sebagi sesuatu yang baru.

Public Relations terkait dengan sekelumit tugas. Di balik menjaga kualitas hubungan yang baik dalam sutu perusahaan, dan selalu mengembangkan citra perusahaan, PR harus selalu memilki ide-ide briliant dalam mengelola aktifitas kehumasan agar selalu menarik. Sebut saja pembuatan press release yang harus dibuat semenarik mungkin dengan tujuan agar dapat menghemat anggaran pemberitaan kegitan kehumasan, sampai dengan acara-acara besar yang  melibatkan banyak warga masyarakat serta perusahaan-perusahaan lain yang menyedot anggaran sangat besar. Untuk itu, menjadi seorang PR yang baik, harus menghasilkan sutau manfaat yang berarti bagi perusahaan, dan efektif apabila ditinjau dari segi biaya. Berikut adalah syarat-syarat menjadi seorang Public Relations yang baik.

Era sosial media telah tiba. Suka tidak suka, mau tak mau, hal ini tentu mempengaruhi cara kerja  praktisi public relations (PR). Banyaknya jejaring sosial itu membuat PR tak lagi hanya berkutat dengan urusan press release yang mengedepankan kaidah bahasa formal. PR mesti dituntut lebih luwes untuk bisa berkomunikasi dengan influencer atau khalayaknya di dunia maya.

Oleh karena itu, adalah cara yang sangat bijaksana dan cerdas untuk mengembangkan Brand suatu perusahaan melalui Cyber Public Relations baik dengan bantuan programmer, maupun melakukan upload sendiri, dan hal ini telah dimungkinkan dengan adanya era Web 2.0 yang membuat interface sebuah program di web semakin mudah untuk diupdate dan dipublish.
I.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan penulisan makalah ini adalah guna memenuhi tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Perkembangan Tekhnologi Komunikasi jurusan Ilmu Komunikasi Hubungan Masyarakat Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Isalam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dengan pembahasan khusus tentang Konsep Cyber Public Relations


BAB II
PEMBAHASAN

II.1. Cyber Public Relations
Cyber Public Relations adalah metode atau cara yang timbul seiring berkembangnya era New Media

Seiring dengan mulai bergaungnya era New Media, dan untuk memaksimalkan keberadaannya, maka Cyber Public Relations mulai berkembang sebagai sarana untuk membangun sebuah Brand dan memelihara kepercayaan (trust), pemahaman, citra perusahaan/organisasi kepada public/khalayak dan dapat dilakukan secara one to one communication bersifat interaktif.

Saat ini, audience lebih memilih untuk mencari informasi melalui sarana online, yaitu internet karena sangat mudah dan lebih cepat.

II.2. Fungsi Internet dalam Cyber Public Relations
Banyak kegunaan yang menguntungkan yang bisa didapatkan dari internet dalam semua bidang (bisnis, akademis, pemerintahan, organissasi, dsb.) antara lain :
  1. Informasi yang didapatkan lebih cepat dan murah dengan aplikasi :
    • Email
Adalah salah satu fasilitas yang paling murah dan paling cepat. Email merupakn sebentuk surat elektronik yang dapat sampai pada tujuan dalam hitungan detik.
    • WWW
Adalah aplikasi paling menarik di internet. Karena di dalamnya tidak hanya terdapat teks, namun juga terdapat gambar maupun multimedia. Di dalam aplikas ini kita dapat memesan barang secara on line, mendaftar ataupun mengakses multimedia. Fasilitas ini dijadikan dunia promosi dan eriklanan.
    • News Group
Adalah forum diskusi atau bila digambarkan layaknya seperti suatu tempat dimana terdapat ruangan-runagn diskusi yang terpisah, dan tiap ruangan mempunyai topik diskusi yang berbeda. Di setiap ruangan bisa terdapat lebih dari satu orang yang saling bertukar pikiran. Bisa juga dikatakan semacam Buletin Board.
    • FTP (File transfer Protocol)
Adalah salah satu aplikasi di interet untuk mengambil (down load) dan meletakkan (up load) suatu file di FTP server. Dengan hal ini kita dapat bertukar file dengan cepat.
    • Mailing List
Adalah sebuah forum diskusi di internet denagn menggunakan e-mail. Satu pesan dari seorang anggota akan diterima oleh semua anggota. Misalnya mailing list yang dibuat oleh UNIMS, ITB Mailing List, dsb.
    • Chatting ( yahoo messager)
Adalah layanan percakapan on line yang biasa digunakan para pengguna internet untuk berbicara dengan pengguna lainnya. Untuk bisa menggunakan fasilitas ini biasanya bisa melalui sebuah situs atau dengan meng-instal sebuah aplikasi khusus untuk ber-chat-ria.
  1. Mengurangi biya kertas dan distribusi, contoh :
    • Koran masuk Internet
    • Majalah, brosur, dsb.
  2. Sebagai media promosi, contoh :
    • Image Company
    • Pengenalan, pemesanan produk
  3. Komunikasi interaktif :
    • Email
    • Dukungan pelanggan dengan WWW
    • Video Conferencing
    • Internet Relay Chat
    • Internet Phone
  4. Sebagai alat Research and Development
  5. Pertukaran data


II.3. Kegiatan Public Relations dalam Internet
Dengan fasilitas di atas, Public Relations dapat melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
  1. Mencari data/informasi
Saat ini, seorang Public Relations tidak harus bersusah payah mencari informasi yang dibutuhkan dalam membuat berita, ia tidak perlu berinjak dari tempat duduknya. Cukup saja dengan memanfaatkan fasilitas internet yang ada di kantornya dengan cara membrowsing beberapa website searching.

  1. Publikasi
Kegitan publikasi yang dilakukan Public Relations dalam internet dapat dilakukan dengan jalan mengikuti mailing list yang sesuai dengan target masyarakat tertentu. Banyaklah menuliskan tulisan berupa artikel, press release menegnai perkembnagan kemajuan program-program pemerintah. Dengan begitu, seluruh anggota milis akan kena terpaan publikasi yang telah dilakukan oleh bagian PR. Selain mengikuti mailing list yang sesuai denagn target golongan masyarakat, humas juga harus berkesdinambungan memproduksi e-newsletter kepada member website anda.  Jalan yang paling aman adalah dengan mengirimkan newsletter website anda yang secara sukarela mendaftarkan alamat emailnya untuk dikirimkan informasi.

  1. Menciptakan berita (media relation)
Untuk menjaga hubungan baik dengan wartawan dapat dilakukan melalui email, jika seorang PR mempunyai database alamat email seorang wartawan akan lebih sangat mudah dalam mengirimkan siaran press. Jika anda mempunyai siaran pers yang butuh disampaikan dengan segera, dengan hanya sekali click, maka siaran press anda akan langsung sampaii di meja waratawan. Untuk tetap menjaga hubungan baik, anda bisa menyapa wartawan tersebut lewat email menayakan kabar wartawan tersebut dan kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan. Anda juga dapat melakukan wawancara atau konferensi pers denagn menggunakn Instant Messager seperti Yahoo Messager. Keuntungan melakukan kegiatan media relations dengan internet adalah bila anda sebagai seorang PR sangat memudahkan para kuli tinta tersebut melakukan pekerjaannya. Bayangkan jika mereka harus melakukan wawancara dengan mendatangi kantor anda, akan membuang waktu perjalanan ynag cukup lama. Dengan Instant Messager, hasil wawancara dapat langsung dirangkum dalam bentuk teks.

II.4. Manfaat dalam Menggunakan Cyber Public Relations atau E-PR
 Berikut ini penjelasan singkat dari beberapa manfaat yang dapat diperoleh organisasi bila menerapkan Cyber Public Relations atau EPR :
         Real time, karena aktivitas komunikasi bisa dilakukan dengan cepat
         Komunikasi konstan, karena EPR menggunakan internet dan internet dapat diibaratkan sebagai sekretaris yang tidak pernah tidur selama 24 jam dan dengan potensi target publik seluruh dunia.
         Interaktif, karena penggunaan EPR memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, karena publik bisa memberikan feedback secara langsung dan cepat.
         No boundaries, karena tidak akan ada batasan komunikasi dalam EPR, sehingga bisa terhubung ke mana saja selama ada jaringan internet.
         Multi media. EPR dapat menyajikan informasi kepada publik dengan menggabungkan berbagai media seperti tulisan (script), gambar (grafis), dan suara (audio), bahkan audiovisual (film, video) dalam satu kesatuan.
         Ekonomis. Komunikasi menggunakan internet untuk menjangkau publik yang luas lebih murah daripada media konvensional.


II.5. Gambar Proses Kegiatan Cyber Public Relations


























Line Callout 2 (Border and Accent Bar): Real Time



Line Callout 2 (Border and Accent Bar): Ekonomis







Line Callout 2 (Border and Accent Bar): Komunikasi
Konstan










Line Callout 2 (Border and Accent Bar): Multimedia




Line Callout 2 (Border and Accent Bar): Interaktif



Striped Right Arrow: Infoirmasi

Rounded Rectangle: Public Relations



Rounded Rectangle: Khalayak/ Publik



Striped Right Arrow: Feedback






























BAB III
KESIMPULAN

Proses pengembangan diri untuk dapat memaksimalkan sebuah proses didalam Cyber PR ada bermacammacam, contohnya dengan mempelajari bagaimana melakukan epublishing yang efektif, membuat berita yang kita buat mudah dicari, bahkan bagaimana cara membuat Online Media Relations untuk memperluas networking kita.

Bila dibandingkan dengan PR konvensional, E-PR nampaknya memiliki peranan yang lebih praktis. PR konvensional nampaknya sangat bergantung pada seorang perantara yang disebut reporter, wartawan, editor dalam menyampakan pesan-peswan korporat untuk ditayangkan di medi cetak guna membangun citra perusahaan. E-PR membuat semunya terkesan praktis dengan hasil yang maksimal, dan membuat pesan dapat langsung mengenai target sasaran, yang dapat dilakukan kapan saja, sekalipun pada saat yang paling genting, dan dari segi biaya E-PR jauh sangat hemat dibandingkan PR konvensional.

Singkatnya, New Media adalah kendaraan yang dapat ditunggangi oleh Cyber PR dan para praktisi PR untuk mencapai tujuan akhir dengan cepat, akurat, dan dengan cara yang mudah.












REFERENSI
1) Definition of New Media (first paragraph), PC Magazine
http://www.pcmag.com/encyclopedia_term/0,2542,t=new+media&i=47936,00.asp#
2) New Media VS Old Media, End Nasution’s WebBlog
http://enda.goblogmedia.com/newmediavsoldmedia.html
3) Definition of New Media (second paragraph), PC Magazine
http://www.pcmag.com/encyclopedia_term/0,2542,t=new+media&i=47936,00.asp#
4) Pengertian Cyber PR, Kamus Komputer dan Tehnologi Informasi
http://www.total.or.id/info.php?kk=cyber%20pr
5) Buku Cyber PR, Bob Julius Onggo
http://bjoconsulting.blogs.com/bjo/2006/05/akom_bina_saran.html
6) PR Online, Ruang Dosen Weblog
http://ruangdosen.